McDonald’s (part II)

29 04 2012

And today finally I get to know her name.

As usual I went to McDonald’s to get breakfast for the kids (this time I bought something to go). And then I started the conversation. I asked her name. She gave me hers, and I gave her mine.

Her name is Eka. Eka, my favorite waitress at McDonald’s Pondok Indah.





Ke McDonald’s? Yang di Pondok Indah aja…

28 04 2012

Saya punya cerita. Dan my friend insists that I post my story here.

Salah satu yang menjadi kebiasaan saya dan keluarga adalah pergi cari sarapan setelah pulang gereja setiap hari Minggu pagi. Biasanya, supaya cepat dan gampang, fast food restaurant menjadi pilihan favorit. Berhubung ada 2 anggota keluarga yang masih belum dewasa, jadilah McDonald’s sebagai pilihan tersering. McDonald’s di Pondok Indah. Kesukaan anak-anak saya adalah Sausage McMuffin. Selalu itu yang dibeli kalau kami pergi kesana untuk sarapan. Sementara saya lama-lama menjadi bosan dengan menu tersebut.

Akhirnya saya pun mulai beralih, mencari pilihan lain yang berbeda. Di sebelah McDonald’s ada KFC. Jadilah saya kesana dan mencoba menu sarapannya. Riser. Enak. Enak sekali. Saya suka banget. Bahkan saya lebih suka riser daripada sausage McMuffin. Tapi anak-anak saya tetap tidak mau beralih dari McDonald’s. So, to compromise, yang selalu saya lakukan adalah ngedrop anak-anak di McD, and let them have their breakfast there. Sementara saya langsung pergi ke toko ayam sebelah dan buy my breakfast there. Sometimes I eat there, other times I bring my food to McD.

Tapi bukan itu yang sebenarnya menjadi pokok tulisan ini. It’s about something else that happened during all that time. Something (still happens sampai sekarang) yang menurut saya sangat interesting. Ada salah satu mbak yang melayani di sana. Si mbak yang sangat baik dan ramah. Menurut saya tingkat keramahan si mbak ini is beyond words. (And I am so ashamed to say that until this very day I still don’t know her name). Dia selalu dengan ramah menyambut dan menyapa saya dan keluarga. Dan saya tahu dia melakukan itu dengan kesungguhan, bukan cuma sekedar menyapa cuma karena itu sudah menjadi tugasnya.

Setiap kali kami datang, dia selalu mengajak berbincang-bincang ringan. Sampai akhirnya dia tahu bahwa kami selalu datang ke sana setelah pulang dari gereja. So her greetings then became, “Baru pulang gereja, bu?” I am just so amazed. Sekali waktu kami   ke gereja dengan jadwal yang berbeda. Sapaannya menjadi, “Tumben bu pulang gereja jam segini.” Wow. She noticed. Saat saya datang tanpa suami, dia bilang, “Bapak nggak ikut, bu?” Exceptional. She always makes me feel good when I come. The way she smiles and eagerly comes to serve me like I was her number one customer makes me feel that I am the most important visitor of the day. Mbak di McDonald’s Pondok Indah itu, I think she is entitled to be the Employee of the Year.

And guess what. Thanks to her, I never again go to KFC for breakfast now.





Tribute to A Woman (Selamat Hari Kartini)

21 04 2012

Let me share something with you.

A woman is someone who has to be weak – so that the man she is with can show superiority.

A woman is someone who has to be strong – when the man she is with needs a sparing partner.

A woman is someone who has to be patient – when the man she is with has to place her after work and friends on his to-do list.

A woman is someone who has to be punctual – for the man she is with to be able to get up each morning and head for work on time.

A woman is someone who needs to have a great memory – when the man she is with forgets everything including birthdays and anniversaries.

A woman is someone who can also be forgetful – when the man she is with betrays her one too many times.

A woman is someone who can stand on her own feet – when the man she is with is too busy to tend for her needs.

A woman is someone who can be clingy – for the man she is with to feel needed and wanted.

A woman is someone who can pretend to be deft – when the man she is with thinks that shouting is the way to express anger.

A woman is someone with endless love – when the man she is with asks for forgiveness time and time again.

A woman is someone who has to be understanding – when the man she is with thinks that motorcycle (or golf, or bars) is the only means of relaxation.

A woman is someone who has to be flexible – when the man she is with asks her to change her agenda to match his schedules.

A woman is someone who has to be gentle – when the man she is with is unwell, all mind, body and soul.

A woman is someone who has to be courageous – when the man she is with cannot be the man he is supposed to be for her.

A woman is someone with many talents – to answer to all the needs of the man she is with.

A woman is someone who has to be there even when most of the time she has to pretend that she does not exist. She needs all her time to care for those around her and yet she needs to spend some of her time to care for herself. She needs to put up with a lot of things, but at the end, a woman needs to know that she is responsible to make herself feel good and respected.

My earlier twit today reads: A woman with advanced thinking knows when she needs to stand in front, beside or behind. Because such woman knows when she has to lead, befriend or serve.

 Selamat Hari Kartini.





Cerita Paskah dari Seorang Tukang Parkir – Tentang Melayani

8 04 2012

For those who have been waiting for this writing that I have promised, sorry it took so long. Sedikit kesulitan teknis. For a couple of days saya tidak bisa akses ke blog ini.

Anyway, here goes.

Hari Jumat. Hari peringatan Jumat Agung. Hari sudah menjelang malam, kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Di jalan kami mampir di warung tongseng dekat rumah. Saya ingat malam itu hujan. Tidak deras, tapi cukup annoying karena hujan seperti itu bisa bikin saya pusing.

Jadi kami memutuskan untuk memarkir mobil di depan warung tongseng dan mengorder dari mobil, supaya tidak harus kena hujan. Setelah mobil diparkir dengan sempurna dan saya buka kaca jendela, tiba-tiba si bapak tukang parkir sudah ada di depan jendela dan menawarkan untuk mengorder tongseng saya. How lovely.

Kemudian sambil menunggu, I decided to get out of the car untuk membeli pulsa untuk bapak. Kebetulan warung pulsa ada di sebelah warung tongseng. So dengan sedikit berbasah-basah, saya lari ke tempat pulsa. Tapi tidak lama kemudian saya baru ingat bahwa handphone saya ketinggalan dan saya tidak ingat nomer telpon bapak. Sedikit kesal saya pun berniat untuk lari kembali ke mobil. Dan tiba-tiba si bapak tukang parkir sudah ada di depan saya dengan payungnya. Wow lagi. Jadi akhirnya saya pun balik ke mobil, ke warung pulsa dan ke mobil lagi, tanpa harus basah-basah. Berkat payung si tukang parkir.

Sampai di situ? Rupanya tidak. Setelah tongseng kami jadi dan diantar ke mobil, kami pun bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Just as the car was about to go, tiba-tiba saya lihat si bapak tukang parkir mengeluarkan lap nya dan membersihkan kedua kaca spion mobil kami. WOW. Saya sangat kagum. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. He was truly a man of service.

Ternyata tidak perlu menjadi seorang jenius untuk bisa membuat orang terpana. Small acts of kindness from the heart can change the world. Terima kasih pak, karena sudah mengajari saya arti melayani.

Selamat Paskah.





My Article in Femina

30 09 2011

I want to share my article that was published in Femina a while ago.

REPOTNYA SEKOLAH

Memang benar adanya kalau orang bilang bahwa sekarang ini jaman sudah terbolak-balik. Apa yang terjadi di jaman sekarang ini pasti tidak pernah terpikirkan di masa satu generasi terdahulu.

Sekarang ini jamannya orang tua ikut-ikutan repot dengan urusan sekolah anak-anaknya. Bukan, maksud saya bukan hanya repot mencari sekolah terbaik buat putra-putrinya. Kalau yang satu itu memang sudah menjadi kerepotan orang tua dari jaman Siti Nurbaya mungkin. Yang saya maksud dengan ikut repot disini adalah betul-betul repot di dalam kegiatan mereka bersekolah dari hari ke harinya. Percaya atau tidak, suatu hari saya menjadi sibuk ber-bbm ria dengan sesama ibu-ibu orang tua murid menanyakan nomor telpon guru wali kelas anak saya. Apa sebab? Buku PS IPA anak saya tidak ada di rumah, dan saya harus menelpon ibu guru wali kelas untuk memastikan bahwa buku PS tersebut memang dikumpulkan. Ini lantaran ketika bertanya pada anak saya mengenai keberadaan bukunya, jawabnya enteng saja, “Nggak tau tuh, Bu. Kalau nggak ada di rumah ya berarti ada di sekolah kali ya.” Menyebalkan.

Kali lain, seorang teman menanyakan di bbm-group, “Eh, besok seragam anak-anak apa sih ya? Putih-putih atau baju olah raga?” Halah…. Sementara saya ingat banget dulu waktu jaman saya SD, saya tidak pernah lupa besok harus pakai seragam yang mana. Dan saya yakin orang tua saya tidak pernah harus mengingatkan saya. Saya yang harus ingat sendiri. Karena kalau salah kostum ke sekolah, sudah pasti hukumannya dijemur di lapangan panas. Duh, jangan sampai deh…

Masih terbayang jelas dimasa saya bersekolah dulu, mana pernah orang tua saya saling berkomunikasi verbal dengan para guru sering-sering? Paling-paling mereka bertemu hanya sekali satu semester, yaitu pada waktu pembagian rapor. Tapi sekarang? Wah, bisa-bisa setiap hari bertukar sms, bbm, saling bertelepon, atau bahkan menyempatkan diri untuk bertemu muka. Hanya untuk mengkonfirmasikan apa PR di hari tersebut, apakah mata pelajaran tertentu akan ulangan di keesokan hari nya, atau hanya sekedar menanyakan tentang seragam olah raga atau topi yang tertinggal di sekolah! Yang paling menyebalkan adalah bila terkadang karena tulisan anak di buku Agenda tidak terbaca jelas dan malas menanyakan pada anak, akhirnya saya lebih sering memilih jalan pintas, yaitu menelpon ibu guru dan bertanya. Lagipula benar kata orang kan, malu bertanya, sesat di jalan. Daripada anak saya salah mengerjakan PR atau tugas lainnya kan?

Hari ini pagi-pagi saya sudah repot mengirimkan pesan ke ibu guru wali kelas anak saya. Hanya untuk menanyakan apakah kegiatan ekstra kurikuler catur diadakan atau tidak siang nanti. Hanya karena anak saya tidak tahu jadwal kegiatan tersebut. Ketika saya tanya, eh, dia malah balik tanya, “Memangnya ada ekskul hari ini, Bu?” Waduuuhhhh…..

Urusan ekskul ini, percaya atau tidak, bisa jadi urusan yang paling merepotkan. Ibu-ibu jadi repot mencari ekskul yang harinya sama dengan hari ekskul teman-teman yang lain. Kenapa? Cuma karena ingin memastikan kami akan ada temannya pada saat harus menunggu anak-anak ekskul. Halah.

Ada satu mata pelajaran yang paling membuat susah kehidupan kami semua. Mata pelajaran yang bukan saja menyulitkan anak-anak, tapi kami para ibu. Pelajaran bahasa Mandarin! Sungguh, untuk urusan yang satu ini, saya dan ibu-ibu lainnya selalu repot mencari, meminjam dan menyalin catatan dari murid yang paling pandai atau bahkan dari sang guru. Kehidupan kami betul-betul dipersulit oleh bahasa Mandarin. Akhirnya karena tidak mau repot, kami pun sepakat juga untuk mendaftarkan anak-anak kami untuk ikut les bahasa Mandarin. Karena kami sudah malas untuk belajar dan mengajarkannya kepada anak-anak kami di rumah!

Mungkin dikarenakan anak sekarang kelewat manja. Apa-apa sangat mudah didapatkan. Mereka pikir yang harus mereka lakukan hanyalah membuat PR, belajar kalau ada ulangan, dan membuat tugas-tugas yang diberikan oleh para guru. Tapi yang paling menggemaskan adalah, untuk hal-hal itu pun kami para orang tua harus ikut turun tangan dan memastikan bahwa tugas-tugas sekolah yang dikerjakan oleh anak-anak kami sudah betul. Kadang kami para ibu sibuk ikut mengerjakan PR anak-anak, mencari bahan-bahan prakarya sampai ke pelosok-pelosok kota Jakarta bahkan terkadang sampai larut malam, dan ikut memastikan bahwa semua perlengkapan sekolah sudah masuk ke dalam tas setiap malam sebelum tidur. Pernah suatu ketika saya lupa memeriksa tas anak saya, dan ketika saya mengantarkan dia ke sekolah pagi harinya, baru dia menyadari bahwa pensil warnanya tertinggal di rumah. Terpaksalah setelah menurunkan dia di sekolah, saya pun langsung mencari toko yang buka 24 jam untuk membeli pensil warna dan berputar balik ke sekolah untuk menitipkan pensil warna tersebut ke pak satpam. Alhasil terlambatlah saya tiba di kantor.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman menceritakan pengalaman hari pertama mengantar anaknya yang baru masuk suatu SD yang sangat terkenal dengan kedisiplinannya. “Saking takut anak gue salah seragam dan salah bawa buku, jadilah pagi itu gue bawa semua seragam dan buku-buku Inka di mobil. Daripada nanti ternyata ada yang ketinggalan…”

Teman lainnya lebih parah lagi. “Saking takutnya telat masuk sekolah, gue sampai tidak bisa tidur malamnya. Takut nggak bisa atau telat bangun pagi…”

Sebegitu repotnya kah memiliki anak-anak berusia sekolah? Yang pasti, kerepotan paling besar buat saya terjadi setiap menjelang akhir semester. Ya, saat anak-anak menghadapi ulangan umum dan ujian kenaikan kelas. Tahu tidak, biasanya dua minggu sebelum masa ulangan umum dimulai, saya dan ibu-ibu yang lain selalu menyempatkan untuk berkumpul dan berbagi tugas. Ya, tugas membuat soal-soal latihan ulangan umum! Biasanya satu ibu akan kebagian membuat soal-soal untuk tiga atau empat mata pelajaran. Akhir semester selalu menjadi masa dimana kami para ibu berubah fungsi menjadi guru dadakan! Duh repotnya….








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers