An Angel with No Wings

12 05 2012

I have a favorite saying: Angels don’t always have wings; those ones that don’t, are called friends.

And tonight I met one of those angels. Here’s the story.

Tonight we all went to Senayan City for dinner. It was around 7 o’clock, Saturday night. You can imagine how crowded all malls are on Saturday nights. And so was the parking place at Senayan City. I drove very very slowly looking for any empty spots – no luck. I went event slower waiting for people who were leaving – again with no luck. I went around and around the parking place, getting more and more frustrated. I was trying very hard to be patient, because I knew that sooner or later I would get a parking spot. But I guess ‘sooner’ didn’t really come so soon.

After going around for what felt like one hundred times (ok, perhaps I am exaggerating too much), I prayed that God will put an end to my misery. Then something happened. There was this one driver (he probably saw me and my car with no luck in finding a parking spot) who suddenly waived to pull me over to the side. I stopped, rolled down the window and he said, “Please just take my spot, and let me go around and try to find another parking spot.”

I couldn’t believe that I would get a chance to see an angel tonight. In a crowded parking place on a Saturday night. But this man was truly an angel God sent to watch over me.





Dosa Setinggi Gunung? – KasihNya Seluas Samudera

15 04 2012

Saya mau berbagi berkat yang saya dapat tadi pagi.

Satu cerita Romo yang membuat saya merasa terharu dan bersyukur. Ada seorang pria yang mengaku bahwa dosanya sudah terlalu besar untuk diampuni. Dia merasa malu dan takut untuk meminta ampun pada Tuhan atas dosa-dosanya. Saat dia sedang berjalan dengan Pastor di pantai, dia pun mengambil segenggam pasir dan berkata, “Kalau Romo bisa hitung jumlah pasir di tangan saya ini, sebanyak itulah dosa-dosa saya. Saya tidak mungkin minta Tuhan untuk menghapuskan semua dosa-dosa saya itu.”

Pastor pun berkata, “Letakkanlah pasir itu kembali di pantai sini. Lalu marilah kita tambahkan tumpukan pasir itu sampai membentuk gundukan yang besar.”

Pria itu melakukan apa yang diminta oleh Pastor. Jadilah gundukan pasir yang besar. Sesaat kemudian datanglah ombak yang besar. Dan dalam sekejap hancur dan hilanglah gundukan pasir itu terbawa air laut.

Tanya Pastor, “Mana gundukan pasir yang besar dan tinggi tadi?”

Jawab pria itu, “Sudah lenyap.”

Pastor pun berkata, “Demikianlah juga dengan dosa-dosamu. Kau katakan dosamu setinggi gunung? Sesungguhnya kasih Allah itu seluar dan sebesar samudera. Dia mampu menghapuskan semua dosa-dosa mu, bahkan semua dosa-dosa manusia di dunia ini.”

Saya sempat meneteskan air mata, ketika menyadari bahwa Yesus selalu menunggu saya.





Cerita Paskah dari Seorang Tukang Parkir – Tentang Melayani

8 04 2012

For those who have been waiting for this writing that I have promised, sorry it took so long. Sedikit kesulitan teknis. For a couple of days saya tidak bisa akses ke blog ini.

Anyway, here goes.

Hari Jumat. Hari peringatan Jumat Agung. Hari sudah menjelang malam, kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Di jalan kami mampir di warung tongseng dekat rumah. Saya ingat malam itu hujan. Tidak deras, tapi cukup annoying karena hujan seperti itu bisa bikin saya pusing.

Jadi kami memutuskan untuk memarkir mobil di depan warung tongseng dan mengorder dari mobil, supaya tidak harus kena hujan. Setelah mobil diparkir dengan sempurna dan saya buka kaca jendela, tiba-tiba si bapak tukang parkir sudah ada di depan jendela dan menawarkan untuk mengorder tongseng saya. How lovely.

Kemudian sambil menunggu, I decided to get out of the car untuk membeli pulsa untuk bapak. Kebetulan warung pulsa ada di sebelah warung tongseng. So dengan sedikit berbasah-basah, saya lari ke tempat pulsa. Tapi tidak lama kemudian saya baru ingat bahwa handphone saya ketinggalan dan saya tidak ingat nomer telpon bapak. Sedikit kesal saya pun berniat untuk lari kembali ke mobil. Dan tiba-tiba si bapak tukang parkir sudah ada di depan saya dengan payungnya. Wow lagi. Jadi akhirnya saya pun balik ke mobil, ke warung pulsa dan ke mobil lagi, tanpa harus basah-basah. Berkat payung si tukang parkir.

Sampai di situ? Rupanya tidak. Setelah tongseng kami jadi dan diantar ke mobil, kami pun bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Just as the car was about to go, tiba-tiba saya lihat si bapak tukang parkir mengeluarkan lap nya dan membersihkan kedua kaca spion mobil kami. WOW. Saya sangat kagum. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. He was truly a man of service.

Ternyata tidak perlu menjadi seorang jenius untuk bisa membuat orang terpana. Small acts of kindness from the heart can change the world. Terima kasih pak, karena sudah mengajari saya arti melayani.

Selamat Paskah.





Jumat Agung-ku

6 04 2012

Yesus ku mati untuk akuSeperti biasa tadi saya ke gereja. Hari ini saya dan keluarga merayakan hari Jumat Agung. Tepatnya kami mengenang sengsara Yesus di hari Jumat Agung ini. Satu hal yang saya rasakan setiap kali merayakan Jumat Agung di gereja. Setiap kali kisah sengsara Yesus dibacakan (tepatnya dinyanyikan kalau di gereja Katholik) my emotion builds up until the moment where it reads: “Sudah selesai. Dan Yesus pun menyerahkan RohNya.” Biasanya saya pun menangis. Saya bukannya menangis karena kasihan bahwa Yesus ku harus mati di kayu salib. Dihina, disiksa dan dibunuh dengan kejam. Tapi saya menangis karena terharu bahwa Yesus menganggap saya berharga. In His eyes, I matter. In His eyes, I am someone important. So much so that He feels the need to lay His life for me. Saya berharga. Saya penting. Saya seseorang yang dianggap layak oleh Yesus ku. Layak untuk diberikan cintaNya.





Pelangi Kasih

18 03 2012

Tadi pagi di gereja kata-katanya Romo pas banget nyentuhnya. Sesuai banget sama kejadian-kejadian yang belakangan ini terjadi.

Ada suatu cerita tentang seseorang yang terdampar di sebuah pulau. Berhari-hari lamanya dia menunggu sampai ada pesawat atau apapun yang datang menolongnya. Suatu hari seperti biasa dia memasang api, berharap ada yang bisa melihat dan menolong dia. Tapi apa yang terjadi? Api itu malah membakar gubug yang selama ini dia tempati. Rumah yang selama ini melindungi dia dari dingin dan hujan. Dia pun marah-marah pada Tuhan. Mengutuk Tuhan karena sudah membiarkan semua ini terjadi. Sekarang dia tidak punya rumah lagi.

Beberapa saat setelah nya tiba-tiba ada sebuah kapal yang datang ke pulau itu, dan menemukan si orang yang terdampar ini. Orang ini pun kaget, dan bertanya, “Sudah berhari-hari saya di sini, dan baru sekarang ada yang datang. Apa yang membuat anda datang kemari?”

“Saya melihat asap yang besar yang anda buat. Oleh karena itulah saya datang.”

Orang tersebut pun terdiam. Mungkin andai saja gubug nya tidak terbakar, api yang menyala dan asap yang dihasilkan tidak akan cukup besar untuk menarik perhatian si kapten kapal itu.

Lagu yang dinyanyikan oleh Romo pun pas banget.

Apa yang kau alami kini mungkin tak dapat engkau mengerti

satu hal tanamkan di hati indah semua yang Tuhan beri

Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti

Cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu

Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia

Saatnya kan tiba nanti kau lihat pelangi kasihNya.

Sekalian saya ingat mas Rico yang saat ini sedang terbaring sakit di negeri orang. Semoga kuat selalu mas. Cobaan yang engkau alami tidak akan melebihi kekuatanmu.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers