An Angel with No Wings

12 05 2012

I have a favorite saying: Angels don’t always have wings; those ones that don’t, are called friends.

And tonight I met one of those angels. Here’s the story.

Tonight we all went to Senayan City for dinner. It was around 7 o’clock, Saturday night. You can imagine how crowded all malls are on Saturday nights. And so was the parking place at Senayan City. I drove very very slowly looking for any empty spots – no luck. I went event slower waiting for people who were leaving – again with no luck. I went around and around the parking place, getting more and more frustrated. I was trying very hard to be patient, because I knew that sooner or later I would get a parking spot. But I guess ‘sooner’ didn’t really come so soon.

After going around for what felt like one hundred times (ok, perhaps I am exaggerating too much), I prayed that God will put an end to my misery. Then something happened. There was this one driver (he probably saw me and my car with no luck in finding a parking spot) who suddenly waived to pull me over to the side. I stopped, rolled down the window and he said, “Please just take my spot, and let me go around and try to find another parking spot.”

I couldn’t believe that I would get a chance to see an angel tonight. In a crowded parking place on a Saturday night. But this man was truly an angel God sent to watch over me.





McDonald’s (part II)

29 04 2012

And today finally I get to know her name.

As usual I went to McDonald’s to get breakfast for the kids (this time I bought something to go). And then I started the conversation. I asked her name. She gave me hers, and I gave her mine.

Her name is Eka. Eka, my favorite waitress at McDonald’s Pondok Indah.





Ke McDonald’s? Yang di Pondok Indah aja…

28 04 2012

Saya punya cerita. Dan my friend insists that I post my story here.

Salah satu yang menjadi kebiasaan saya dan keluarga adalah pergi cari sarapan setelah pulang gereja setiap hari Minggu pagi. Biasanya, supaya cepat dan gampang, fast food restaurant menjadi pilihan favorit. Berhubung ada 2 anggota keluarga yang masih belum dewasa, jadilah McDonald’s sebagai pilihan tersering. McDonald’s di Pondok Indah. Kesukaan anak-anak saya adalah Sausage McMuffin. Selalu itu yang dibeli kalau kami pergi kesana untuk sarapan. Sementara saya lama-lama menjadi bosan dengan menu tersebut.

Akhirnya saya pun mulai beralih, mencari pilihan lain yang berbeda. Di sebelah McDonald’s ada KFC. Jadilah saya kesana dan mencoba menu sarapannya. Riser. Enak. Enak sekali. Saya suka banget. Bahkan saya lebih suka riser daripada sausage McMuffin. Tapi anak-anak saya tetap tidak mau beralih dari McDonald’s. So, to compromise, yang selalu saya lakukan adalah ngedrop anak-anak di McD, and let them have their breakfast there. Sementara saya langsung pergi ke toko ayam sebelah dan buy my breakfast there. Sometimes I eat there, other times I bring my food to McD.

Tapi bukan itu yang sebenarnya menjadi pokok tulisan ini. It’s about something else that happened during all that time. Something (still happens sampai sekarang) yang menurut saya sangat interesting. Ada salah satu mbak yang melayani di sana. Si mbak yang sangat baik dan ramah. Menurut saya tingkat keramahan si mbak ini is beyond words. (And I am so ashamed to say that until this very day I still don’t know her name). Dia selalu dengan ramah menyambut dan menyapa saya dan keluarga. Dan saya tahu dia melakukan itu dengan kesungguhan, bukan cuma sekedar menyapa cuma karena itu sudah menjadi tugasnya.

Setiap kali kami datang, dia selalu mengajak berbincang-bincang ringan. Sampai akhirnya dia tahu bahwa kami selalu datang ke sana setelah pulang dari gereja. So her greetings then became, “Baru pulang gereja, bu?” I am just so amazed. Sekali waktu kami   ke gereja dengan jadwal yang berbeda. Sapaannya menjadi, “Tumben bu pulang gereja jam segini.” Wow. She noticed. Saat saya datang tanpa suami, dia bilang, “Bapak nggak ikut, bu?” Exceptional. She always makes me feel good when I come. The way she smiles and eagerly comes to serve me like I was her number one customer makes me feel that I am the most important visitor of the day. Mbak di McDonald’s Pondok Indah itu, I think she is entitled to be the Employee of the Year.

And guess what. Thanks to her, I never again go to KFC for breakfast now.





Dosa Setinggi Gunung? – KasihNya Seluas Samudera

15 04 2012

Saya mau berbagi berkat yang saya dapat tadi pagi.

Satu cerita Romo yang membuat saya merasa terharu dan bersyukur. Ada seorang pria yang mengaku bahwa dosanya sudah terlalu besar untuk diampuni. Dia merasa malu dan takut untuk meminta ampun pada Tuhan atas dosa-dosanya. Saat dia sedang berjalan dengan Pastor di pantai, dia pun mengambil segenggam pasir dan berkata, “Kalau Romo bisa hitung jumlah pasir di tangan saya ini, sebanyak itulah dosa-dosa saya. Saya tidak mungkin minta Tuhan untuk menghapuskan semua dosa-dosa saya itu.”

Pastor pun berkata, “Letakkanlah pasir itu kembali di pantai sini. Lalu marilah kita tambahkan tumpukan pasir itu sampai membentuk gundukan yang besar.”

Pria itu melakukan apa yang diminta oleh Pastor. Jadilah gundukan pasir yang besar. Sesaat kemudian datanglah ombak yang besar. Dan dalam sekejap hancur dan hilanglah gundukan pasir itu terbawa air laut.

Tanya Pastor, “Mana gundukan pasir yang besar dan tinggi tadi?”

Jawab pria itu, “Sudah lenyap.”

Pastor pun berkata, “Demikianlah juga dengan dosa-dosamu. Kau katakan dosamu setinggi gunung? Sesungguhnya kasih Allah itu seluar dan sebesar samudera. Dia mampu menghapuskan semua dosa-dosa mu, bahkan semua dosa-dosa manusia di dunia ini.”

Saya sempat meneteskan air mata, ketika menyadari bahwa Yesus selalu menunggu saya.





Cerita Paskah dari Seorang Tukang Parkir – Tentang Melayani

8 04 2012

For those who have been waiting for this writing that I have promised, sorry it took so long. Sedikit kesulitan teknis. For a couple of days saya tidak bisa akses ke blog ini.

Anyway, here goes.

Hari Jumat. Hari peringatan Jumat Agung. Hari sudah menjelang malam, kami dalam perjalanan pulang ke rumah. Di jalan kami mampir di warung tongseng dekat rumah. Saya ingat malam itu hujan. Tidak deras, tapi cukup annoying karena hujan seperti itu bisa bikin saya pusing.

Jadi kami memutuskan untuk memarkir mobil di depan warung tongseng dan mengorder dari mobil, supaya tidak harus kena hujan. Setelah mobil diparkir dengan sempurna dan saya buka kaca jendela, tiba-tiba si bapak tukang parkir sudah ada di depan jendela dan menawarkan untuk mengorder tongseng saya. How lovely.

Kemudian sambil menunggu, I decided to get out of the car untuk membeli pulsa untuk bapak. Kebetulan warung pulsa ada di sebelah warung tongseng. So dengan sedikit berbasah-basah, saya lari ke tempat pulsa. Tapi tidak lama kemudian saya baru ingat bahwa handphone saya ketinggalan dan saya tidak ingat nomer telpon bapak. Sedikit kesal saya pun berniat untuk lari kembali ke mobil. Dan tiba-tiba si bapak tukang parkir sudah ada di depan saya dengan payungnya. Wow lagi. Jadi akhirnya saya pun balik ke mobil, ke warung pulsa dan ke mobil lagi, tanpa harus basah-basah. Berkat payung si tukang parkir.

Sampai di situ? Rupanya tidak. Setelah tongseng kami jadi dan diantar ke mobil, kami pun bersiap untuk meninggalkan tempat itu. Just as the car was about to go, tiba-tiba saya lihat si bapak tukang parkir mengeluarkan lap nya dan membersihkan kedua kaca spion mobil kami. WOW. Saya sangat kagum. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. He was truly a man of service.

Ternyata tidak perlu menjadi seorang jenius untuk bisa membuat orang terpana. Small acts of kindness from the heart can change the world. Terima kasih pak, karena sudah mengajari saya arti melayani.

Selamat Paskah.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 39 other followers