siapa yang sekolah… siapa yang repot…

26 01 2009

Tibalah pengalaman pertama saya memiliki anak usia Sekolah Dasar.  Si abang, anak pertama saya sudah harus masuk SD.  Repot memang.  Mulai dari urusan mencari-cari calon sekolah, mendaftar sampai menemani dia mengikuti tes masuk sekolah.  Berbagai macam sekolah saya datangi demi mendapatkan yang terbaik untuk si abang…. dan juga tentunya buat dompet saya… hahaha….

Setelah melalui semua tahapan yang harus dijalankan dan cukup complicated, akhirnya terpilihlah sebuah sekolah swasta katolik di daerah Selatan Jakarta sebagai tempat si abang menuntut ilmu.  Setelah melakukan pembayaran uang pangkal (demi mendapatkan yang terbaik saya rela mencari-cari informasi tentang penerapan sistem diskon untuk uang pangkal), membeli seragam dan buku-buku yang diperlukan (demi mendapat yang terbaik pula saya rela mengantri di toko seragam grosiran di sebuah pasar yang tentunya harganya bisa sangat lebih miring), saya merasa jauh lebih tenang karena sudah dapat menyelesaikan tugas mencari sekolah dengan baik.  Saya pikir akan menjadi tenanglah hidup saya di hari-hari mendatang.  Tidak lagi pusing seperti sebelum mendapatkan sekolah.

Hari pertama sekolah tiba.  Saya sengaja meminta ijin dari kantor untuk masuk siang demi bisa mengantarkan si abang ke sekolah barunya.  Sampai di sekolah saya disambut dengan keramaian yang menyerupai suatu pusat perbelanjaan yang sedang mengadakan sale.  Macet, susah cari parkir, sampai kesulitan masuk ke dalam sekolah dikarenakan banyaknya orang tua murid yang rupanya juga turut mengantar anak-anak mereka di hari pertama sekolah. 

Saya pun turut masuk bersama si abang dan rombongan lainnya sampai di depan kelas.  Wah, ramainya.  Seru juga rupanya.  Saya sampai lupa bahwa begini jugalah dulu ketika saya masuk SD untuk pertama kalinya diantar oleh orang tua saya.  Ketika tiba waktunya anak-anak masuk ke kelas mereka, keramaian tidak segera hilang.  Para orang tua murid, yang sebagian besar adalah ibu-ibu masih saja bergerombol di depan ruang-ruang kelas sambil mengobrol.  Saya pun ikut ambil bagian dalam kegiatan socializing ini.  Saya mulai mengobrol dengan ibu-ibu yang lain sambil mencari informasi tentang sekolah ini.  Ada beberapa ibu-ibu yang sudah saling mengenal karena berasal dari TK yang sama, tapi ada juga ibu-ibu baru seperti saya.  Dari mereka saya mendapatkan informasi seperti apa guru-gurunya, bagaimana lingkungannya, kebiasaan-kebiasaan apa yang ada di sekolah ini, dan sebagainya.  Tak lupa saya pun bertukar nomor telepon dengan mereka, in case saya membutuhkan informasi tambahan di kemudian hari.  Wah, pokoknya bisa dipastikan bahwa bukan hanya si abang yang mendapatkan teman-teman baru, saya pun pada hari tersebut berhasil menjalin sebuah network baru yang cukup luas.

Saya tidak menyangka bahwa pengalaman saya di hari pertama itu akan menjadi sangat berguna.  Jalinan network saya yang baru terbukti bisa memeberikan bantuan yang sangat besar.  Karena di hari-hari berikutnya saya mendapati fakta bahwa ternyata sangatlah sulit membaca agenda si abang yang tulisannya acak adul, bahkan sampai sering pula dia sendiripun tidak bisa membacanya.  Di sinilah daftar nomor telepon para ibu-ibu mempunyai peran yang besar dalam pemecahan masalah.  Mulailah saya menelepon sana sini untuk memastikan apa yang tertera dalam agenda pada hari tersebut.  Mulai dari menanyakan isi agenda, memastikan apa PR yang harus dikerjakan di hari yang bersangkutan sampai segala sesuatunya yang harus dibawa untuk mata pelajaran tertentu.

Hari-hari dan minggu-minggu pertama memang terasa repot.  Maklum, semua itu adalah rutinitas baru buat saya.  Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, things got to be under control.  Saya mulai terbiasa dengan semua aktifitas itu.

Sampai… masa ulangan umum yang pertama pun tiba.  Sama seperti hal-hal pertama lainnya, yang satu ini pun tidak kalah menghebohkan.  Saya dan beberapa ibu lainnya pun membentuk sebuah tim guru dadakan.  Kami berkumpul dan berbagi tugas untuk membuat latihan-latihan soal ulangan untuk semua mata pelajaran.  Setelah semua terkumpul kami pun membagi-bagikannya kepada anak-anak kami untuk bahan mereka belajar.  Dalam minggu-minggu menjelang ulangan umum tersebut frekwensi komunikasi di antara kami para ibu, sangatlah tinggi.  Arus lalu lintas telepon dan email kami sangatlah padat.  Mulai dari pertanyaan tentang jadwal ulangan umum, bahannya sampai pada salin-menyalin catatan dan tugas-tugas sekolah menjadi bahan pembicaraan dan aktifitas yang paling rutin.  Wah, pokoknya serasa kami yang sedang mengenyam bangku pendidikan sekolah dasar.  Bagaikan menjadi murid SD untuk yang kedua kalinya. 

Kami tidak yakin bahwa anak-anak menyadari betapa sibuknya kami dalam rangka membuat masa bersekolah mereka senyaman dan semudah mungkin.  Dan kami tidak tahu apakah mereka bisa merasakan bahwa kami bersedia repot dalam memberikan kemudahan-kemudahan kepada mereka.  Dan kamipun tidak peduli apakah yang kami lakukan malahan akan membuat mereka terdidik menjadi anak manja dan tidak mandiri.  Bahkan kami juga sebenarnya tidak tahu apakah segala kerepotan dan kesibukan kami itu adalah murni demi kepentingan anak-anak kami ataukah lebih karena kami yang merasa perlu mempunyai suatu suatu alasan untuk bersosialisai dan merasa berguna?

Apapun jawabannya, pengalaman-pengalaman pertama tersebut tidaklah mungkin terlupakan.  Kapan lagi kami yang usianya sudah berkepala tiga merasakan lagi indahnya masa-masa sekolah?

 

smk060109


Actions

Information

4 responses

26 01 2009
Jake

Panjang banget untuk ukuran blog mbak… keep it under 300 words…

simawarkuning: masak sih? namanya juga artikel, jeks. makanya i put it under kategori artikel. jadi yang baca juga tau bahwa it’s a bit longer then the others…

26 01 2009
Jo Hutagalung

San, ide critanya bagus, hanya kata2 elo kurang “bercerita” alias masih agak kaku en serius. Should be fun though..tapi guwe salut ma elo, bisa nulis blog..gw paling cm bisa nulis di diary..hihii, gak brani nulis kaya elo..
Oia 1 lagi, antara alinea 5 dan 6 agak loncat yah? kayanya ada beberapa kalimat supaya nyambung ke alinea 6…

simawarkuning: hmmm… coba ntar gue ganti2 gaya bahasa dan gaya cerita ya. buat yang ‘agak loncat’, tadinya sih pengennya mempersingkat cerita… tapi coba gue betulin dikit deh🙂 tengkyus…

28 01 2009
Bembie

HHHmmmm setuju ama si Jake, isinya kayaknya perlu di persingkat dan setuju juga ama si Jo, gaya bahasanya mesti dibikin lebih gaul……….

Intinya yang mau baca gak males duluan liat artikel yang kepanjangan dan bahasa yang terlalu sopan…….. I’m supporting you………..

simawarkuning: bembie… taela… memang ini adalah artikel, makanya dimasukkin dalam kelompok artikel. perhaps kelompok ‘random thoughts’ is more to your liking. memang artikel itu tujuannya bukan untuk easy reading sih… rencananya tadinya mau di post di media lain… thanks anyway yaaa…

28 01 2009
Angie

Wah.. setelah mbaca blogmu gw jadi mikir gw bakal kayak gitu juga ngga ya? Alias repot. Aidan jumat ini bakal masuk kinde..
Dianya sih santai2x aja. Gwnya yang excited banget. Baru kinde doang padahal. Tapi cukup full on. Masuk jam 9.25, pulang jam 3.25

simawarkuning: besok hari pertama aidan di kindergarten ya. good luck dan enjoy deh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: