second class citizen

27 01 2009

(artikel di bawah ini saya tulis sudah lama… september 2007. enjoy)

Siapa suka menjadi seorang second-class-citizen? Saya yakin pasti tidak akan ada orang di muka bumi ini yang secara sadar berkeinginan untuk menjadi seseorang yang ‘berkasta’ lebih rendah dari orang lain. Tapi apa dinyana, selalu ada saja kejadian-kejadian di sekitar kita yang sometimes membuat kita merasa menjadi yang derajatnya lebih rendah daripada yang lain.

Belum lama yang lalu, something happened that made me feel like being a second class citizen. Kejadian yang menimpa saya tersebut seolah membuat saya ingin berteriak, menjerit, melampiaskan kekesalan lewat kekerasan fisik (yang ini pun sampai sekarang masih cukup membuat saya heran seribu heran karena pada kenyataannya saya ini adalah seorang wanita tulen lho). Semua bermula dari beberapa orang marinir yang sedang ‘mejeng’ di seputaran Cilandak, tempat saya berkantor (sepertinya pada hari itu beberapa ‘anggota’ mereka sedang ingin melewati daerah tersebut). Saya yakin semua tahu bahwa di daerah itu pulalah para marinir ini bermarkas.

Anyway, pada hari ‘naas’ tersebut saya sedang bertugas menjemput anak saya yang bersekolah juga di daerah yang sama. Setelah saya dan anak saya masuk ke dalam mobil, saya pun bersiap untuk meninggalkan pelataran parkir sekolah untuk langsung pulang. Seperti biasa mobil saya harus menyeberangi pembatas jalan untuk berbelok ke kanan. Tiba-tiba sang marinir yang kebetulan sedang ‘mejeng’ di pembatas jalan tersebut waved his hand at me. Saya pun membuka jendela dan menanyakan ada apa gerangan. Marinir tersebut berkata pada saya bahwa saya tidak boleh menyeberangi pembatas disitu. Tidak ada rambu yang menyatakan saya tidak boleh melakukan hal itu, kata saya. Diapun seolah tidak peduli apa yang saya katakan dan terus berusaha menghalang-halangi saya. Karena saya merasa tidak melanggar peraturan lalu lintas whatsoever, saya pun menutup jendela dan ingin meneruskan perjalanan. Tapi sang marinir ini pun tidak putus berusaha. Dia langsung memukul-mukul mobil saya sambil terus mengatakan bahwa saya harus berhenti dan mundur. Hal ini membuat saya jadi ‘panas hati’. Saya kembali membuka jendela dan berkata agak memaki, “Pak, tidak ada rambu apa-apa, dan saya tidak berbuat kesalahan. Biasanya juga tidak apa-apa. Kalau memang saya salah, bawa saya ke polisi sekarang juga. Ayo kita selesaikan secara hukum!!”

Setelah itu saya kembali menutup jendela dan langsung tancap gas sambil membunyikan klakson dengan keras dan terus melemparkan pandangan marah kepada marinir itu. Kesal rasanya.

Kejadian tersebut berlangsung tidak lama. Tidak pula sampai 5 menit. Tapi efek yang saya rasakan lasted a while. Kekesalan hati, kejengkelan dan kemarahan terus diam dalam diri saya sampai berjam-jam setelah kejadian itu. Yang paling saya sesalkan adalah kejadian tersebut terjadi disaat anak saya sedang ada di dalam mobil bersama saya. Jadi dia turut menyaksikan dan mendengar semua kemarahan, kekesalan, dan omelan yang sempat saya lontarkan kepada marinir yang menyebalkan itu.

Kenapa ya, hanya karena mereka berseragam dan membawa sepucuk senjata, lantas merasa bahwa mereka adalah merupakan golongan yang superior, sementara saya dan beberapa orang lainnya yang berbaju biasa dan hanya membawa tas, serta merta harus selalu tunduk pada setiap perintah mereka. Kejadian tersebut sudah saya alami beberapa kali, dan tiap kali terjadi selalu membuat hati saya kesal dan hari saya menjadi buruk. Apakah memang karena jalan tersebut bernama Jalan Cilandak KKO, maka berarti para marinir itulah sang empunya jalan ini? Apakah karena markas besar mereka ada di daerah ini, maka orang-orang yang non-marinir harus selalu ‘mengalah’ setiap kali ‘anggota-anggota’ mereka yang berkendaraan truk atau mobil berplat nomor biru mau lewat?

Jadi teringat teman-teman dan kerabat-kerabat saya yang selalu menanyakan, kenapa sih, sudah enak-enak sekolah di Amerika bertahun-tahun, tidak kerja dan tinggal saja disana? Dengan penuh kesungguhan saya selalu menjawab mereka, “Saya tidak mau jadi second-class-citizen. Makanya saya kembali ke Indonesia, dimana at least saya bisa diakui dan dihormati sebagai warga negara dan punya hak sama seperti warga negara Indonesia lainnya.” Tapi kenyataannya? Betapa menyedihkan karena ternyata di Indonesia yang adalah negara saya sendiri pun saya masih harus mengalami perasaan menjadi seorang second-class-citizen.

smk120907


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: