perempuan… aduh, cape deh…

31 01 2009

Pertama-tama saya ingin menegaskan bahwa saya adalah seorang perempuan normal, dan saya menulis artikel ini bukan karena saya ingin mengambil hati para lelaki dan berharap bahwa setelah ini akan mendapat banyak fans berjenis kelamin lelaki. Sama sekali bukan. Tulisan ini adalah purely sebagai ungkapan hati dan perasaan saya sebagai seorang perempuan dan pendapat saya tentang bagaimana a woman is supposed to be.

Saya yakin bahwa ungkapan-ungkapan seperti ladies first, ladies driver, sampai ladies day, pasti sudah akrab di telinga kita semua. Semua ujung-ujungnya sama. Perempuan ingin diperlakukan spesial. Sebagai seorang perempuan saya setuju dengan itu semua. Betapa bahagianya bisa selalu disenangkan hatinya, bukan?

Tapi lalu ada satu sisi lain dari seorang wanita. Pernah juga kan mendengar istilah ‘emansipasi wanita’? Women’s Lib, feminisme, atau apapun istilah kerennya. Perempuan berlomba-lomba untuk menyerukan kesetaraannya dengan laki-laki. Tidak tanggung-tanggung, kaum perempuan ingin selalu bisa sama dengan kaum lelaki dalam segala hal. Catat, dalam segala hal. Mereka akan protes berat kalau tidak bisa diperlakukan sama dengan lawan jenisnya. Misalnya dalam hal pekerjaan, mengurus keluarga di rumah, keturutsertaan dalam cabang olah raga tertentu (baca: tinju) atau bahkan dalam perang, serta persamaan kewajiban-kewajiban dan hak-hak lainnya.

Jadi, saya sering bertanya-tanya, sebenarnya apa sih yang diinginkan kaum perempuan itu sebenarnya? Ingin sama dengan lelaki atau ingin diperlakukan spesial karena berbeda? Karena tidak adil sepertinya kalau in some ways, perempuan ingin disamakan dengan lelaki, tapi in other ways, mereka ingin dibedakan. Tidak heran kalau kaum adam selalu pusing tiap kali harus berhadapan dengan wanita. Karena wanita selalu menuntut untuk diberlakukan double-standard untuk kaum hawa.

Coba perhatikan, kalau kita selalu menuntut untuk bisa mendapatkan cuti haid atau cuti melahirkan, kenapa pula kita harus marah kalau pada kenyataannya kita tidak bisa diterima untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu yang mengharuskan 100% kehadiran? Kalau kita selalu berkata, uangmu adalah uangku juga, lalu kenapa giliran uang kita, adalah sepenuhnya milik kita sendiri? Kalau kita ingin disamakan dengan kaum lelaki, kenapa kita harus protes pada saat mereka tidak membantu kita membawakan belanjaan kita yang beratnya minta ampun tiap kali kita belanja ke supermarket? Kenapa pula kita sering minta dibukakan pintu mobil atau diberikan kesempatan pertama dalam antrian mengambil makan dalam suatu pesta atau disiapkan tempat parkir khusus?

Sudahlah, kita terima saja kodrat kita sebagai perempuan yang memang diciptakan Tuhan berbeda dengan laki-laki. Dari sisi fisik saja kita sudah bisa melihat perbedaannya. Belum lagi kita sebagai wanita memiliki kemampuan untuk mengandung dan melahirkan. Kita ini diciptakan dari tulang rusuk Adam, sebagai pendamping kaum lelaki. Betapa mulianya arti hidup kita. Apalah salahnya kalau kita sedikit lebih berperan dalam mengurus anak-anak dan keluarga di rumah. Apalah salahnya kalau kita sebagai wanita bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan bagi suami dan anak-anak. Apalah salahnya kalau kita lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mencuci dan memasak. Tidak ada salahnya, bukan? Toh kita juga mendapatkan so much in return. Kita mendapatkan kepuasan hati, kasih sayang anak-anak dan suami, dan yang terpenting, kita selalu mendapatkan perlakuan-perlakuan spesial yang sudah saya sebutkan tadi.

Saya bangga menjadi seorang istri dan ibu. Saya bangga bisa memberikan perhatian cukup untuk suami dan anak-anak saya. Saya bangga bisa tetap bekerja ‘sampingan’ sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan (I still consider that my main job adalah menjadi seorang istri dan ibu). Saya perempuan. Dan tentu saja being a woman, I want to be treated special like a woman should. Seperti apakah itu? Hmmm…. It’s for me to know and for the men to find out. Aduh, cape deh…

smk120907


Actions

Information

2 responses

31 01 2009
Herwiyani Homfray

Sebagai Perempuan kita harus bangga Apapun kodratnya. Penuh kesabaran kunci kekuatan cinta terhadap orang2 yang dicintai.
Merasakan tidak adil karna perempuan bisa melakukan pekerjaan rumah dan kantor. Terutama dalam melahirkan serta membina karakter anak. Perempuan paling bisa komunikasi dengan anak. Dominasi perempuan sangat besar pengaruhnya!

simawarkuning: iya bener wik… that’s the beauty of being a woman. we have been given lots of strength and ability to do so much. but still we are a part of men. dari tulang rusuk maka kita harusnya ada di samping laki-laki. pendamping laki-laki🙂 go woman!

17 02 2010
sigit

is this wiwiek from Upancas?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: