never ending life’s questions

31 01 2009

Suatu ketika di sebuah acara Natalan keluarga, seorang tante menanyakan kepada saya, mana nih cowoknya, kok nggak dibawa? Dengan gaya santai walau di hati sebenarnya ada rasa sebel luar biasa, saya menjawab, diumpetin, biar nggak kabur setelah kenal dengan keluargaku yang aneh-aneh bentuknya.

Masa-masa yang menyebalkan dalam hidup saya memang. Waktu itu saya sudah SMA dan belum juga punya pacar. Wah, jadi sasaran empuk buat orang-orang di sekitar saya, terutama kerabat-kerabat saya. Pertanyaan seperti di atas hampir menjadi santapan mingguan (karena hampir setiap minggu saya bertemu dengan saudara-saudara saya) Yang lebih menyebalkan lagi adalah, ibu saya sempat bersekongkol dengan kakaknya (berarti beliau adalah bude saya ya?), untuk mencarikan pacar buat saya. Jadi ibu sempat menanyakan kepada sepupu-sepupu saya kalau-kalau mereka punya teman yang bisa dijodohkan dengan saya. Ampun….. Masih suka kesal rasanya kalau ingat kejadian itu.

Selepas SMA, I went to study abroad. Adalah beberapa orang yang sempat menjadi fling. Tapi never pacar betulan. Beberapa kali saya kembali ke Indonesia, tapi belum juga saya membawa seorang kekasih untuk bisa dikenalkan kepada bapak dan ibu saya (well, terutama ibu, karena beliau yang selalu mendesak agar saya segera punya pacar). Saya sempat merasa agak down, karena saking seringnya ditanyakan kenapa belum punya cowok, maka saya jadi berpikir bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri saya karena tidak juga punya pacar. Saya jadi semakin gelisah kalau melihat teman-teman saya semua rata-rata sudah punya gandengan. Kalau jalan-jalan pasti berpasang-pasangan. Sementara saya? Selalu sendiri. Ada apa ini?

Saat yang ditunggu pun akhirnya tiba. Saya punya pacar! Yipeeeee….!!! For the first time in my life, saya punya special someone sungguhan (baca: bukan sekedar fling yang hanya bertahan beberapa bulan saja) untuk dikenalkan kepada ibu. Dan saya merasa yang ini pun cukup serius. Saya pun melihat ibu cukup bangga untuk bisa mengatakan kepada saudara-saudara dan teman-temannya bahwa beliau sudah punya ‘calon mantu’. Kalaupun pada akhirnya saya dan pacar saya itu tidak sampai melanjutkan hubungan kami ke jenjang berikutnya, itu tidak menjadi soal. Yang penting saya sudah bisa menghentikan pertanyaan menyebalkan itu.

Tapi saya salah. Setelah tahu bahwa saya akhirnya berhasil punya pacar, pertanyaan itu bukannya berhenti malahan berganti menjadi, kapan dong nih, mau kawin, kan sudah hampir kepala tiga umurnya? Huh…. baru juga 25 tahun, masih jauh untuk sampai ke 30. Kembali saya gelisah. Apa memang benar my time is running out? Memang sih, ada beberapa orang teman yang sudah menikah dan bahkan sudah punya anak. Tapi saya memang rasanya masih jauh dari tahap itu. Dan sebenarnya I quite enjoyed my life at the time. Except for that annoying question. Kenapa sih orang-orang ini tidak bisa membiarkan saya menjalani hidup ini sealami mungkin tanpa harus dibebani dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkan yang cuma bisa bikin hati saya gelisah dan mempertanyakan apakah ada yang aneh dengan diri saya? Teramat sangat menyebalkan.

Lalu tibalah saat yang sudah terlalu lama dinanti. Saya benar-benar mau menikah dengan seorang cowok yang sudah saya pacari selama kurang lebih 2 tahun. Akhirnya. Ibu mulai senyum-senyum lagi. Entah senyum karena rasa lega atau apa. Yang pasti sepertinya beliau bahagia lah buat saya. Di hari perkawinan saya, selain merasa senang dan bahagia, saya pun merasa lega. Lega karena bisa terlepas dari ‘pertanyaan’ itu. Ah, akhirnya, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang akan mengganggu hidup saya. Tidak ada lagi yang bisa membuat saya gelisah dan mempertanyakan kenormalan diri saya. Beberapa bulan setelah perkawinan saya itu adalah merupakan masa-masa tenang dalam hidup saya. Betapa menyenangkan hidup ini.

“Eh, gimana kabarnya? Kapan nih punya momongan?” Oh, no!!! Muncul lagi pertanyaan lain yang tidak kalah menyebalkan. Saya dan suami pada saat itu memang sudah sepakat untuk menunda kehadiran anak, Selain belum merasa siap, kami juga ingin take it easy saja, dan menikmati hidup berdua. Saat itu kira-kira 7 bulan usia perkawinan kami. Belum juga ada 1 tahun, pikir saya. Kenapa orang-orang ini sudah mulai mengoceh tentang anak? Tidak mengertikah mereka bahwa kami memang sengaja menundanya? Capek rasanya kuping saya mendengar pertanyaan mereka tentang kapan kami akan punya anak. Sebel, sebel, sebel…. Sempat sampai stress saya memikirkan pertanyaan itu. Sempat juga saya takut kalau-kalau memang nantinya saya tidak bisa punya anak. Nah lho. Kembali saya berpikir, wah, time is running out. Mungkin memang benar sudah saatnya punya anak.

Seakan ingin berlomba dengan all those life’s questions, saya akhirnya pun hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Wah… bahagianya saya. Orang-orang datang untuk mengagumi bayi saya. Mereka memberikan ucapan selamat karena akhirnya saya punya anak juga. Saya merasa puas karena akhirnya bisa mencapai tahap itu juga. Lenyaplah sudah segala pertanyaan-petanyaan ‘ajaib’ itu. Tolong, jangan biarkan mereka kembali lagi. I want to live my life in peace. Semoga sekarang ini saya sudah benar-benar bisa mengalahkannya. Semoga saja kali ini saya benar-benar sudah menang. Tapi saya tidak bisa sepenuhnya menghilangkan keraguan saya.

Usia anak saya pun mulai bertambah. 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun… tiba-tiba ketakutan saya terbukti. Pertanyaan itu datang lagi. Memanifestasikan dirinya dalam sebuah bentuk pertanyaan yang lain: ‘Kapan nih yang kedua nyusul?’ Oh, my God. Kapan saya bisa menentukan langkah hidup saya sendiri kalau saya terus menerus disetir oleh pertanyaan-pertanyaan ini? Apa sih salahnya punya satu anak saja? Saya tahu bahwa program KB menyebutkan dua anak, tapi terus kenapa memang kalau anak saya cuma satu? Dengan rasa lelah yang teramat sangat, saya lantas (seperti yang sudah-sudah) mencoba untuk menjawab pertanyaan yang rasa-rasanya makin mirip saja dengan tantangan hidup. Setelah usia anak saya yang sulung menginjak 5 tahun, adiknya pun lahir. Another baby boy.

Ah, sudah. Cukup. Saya sudah lelah. Saya sudah mengalahkan tantangan-tantangan itu. Saya tidak mau lagi dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Saya sudah berhasil punya pacar. Saya sudah berhasil menikah. Saya bahkan sudah punya dua orang anak. Saya tidak akan peduli lagi kali ini. Saya tahu bahwa someday (very very shortly) pertanyaan itu akan kembali menghantui saya. Kapan nih punya anak perempuan? Apakah saya harus kalah lagi? Lalu bagaimana dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya nanti di sepanjang hidup saya? Setelah anak-anak saya dewasa, orang-orang itu masih akan bertanya, kapan nih mantu? Lalu, kapan nih punya cucu? Jadi kapan sebenarnya kita ini bisa dinyatakan menang atas tantangan hidup tersebut? Atas those never ending life’s questions? Saya pun mulai belajar untuk tidak memberikan pertanyaan-pertanyaan yang sama kepada orang-orang di sekitar saya. Saya sudah cukup merasa annoyed dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak perlu lah ada orang lain merasakah hal yang sama. Memang menyebalkan.

smk130707


Actions

Information

3 responses

31 01 2009
nana

emang,pertanyaan2 itu paling nyebelin. gw sampe sempet males dateng ke kawinan sodara/kerabat karena ujung2nya ditanyain kapan married, dll. pernah denger cerita, balikin aja sama pertanyaan:”kapan nih masuk liang?” hehehehe.. terlalu ekstrim memang. any other way?

simawarkuning: sekarang udah nikah kan? well, welcome to the society with more upcoming questions. siap2 tuli’in kuping aja deh…🙂

4 02 2009
nana

yeah, i’ve moved to the next question:”gimana, dah isi belom?” halah..!

simawarkuning: you are still a long long way away, darling🙂 there’ll be lots more coming hahaha….

9 02 2009
Don Corleone

Gue masih ‘stuck’ di pertanyaan : “kapan adeknya Chelsea menyusul”?

Meanwhile….

Papa: Chels, mau adek ngga?
Chelsea: Udah ada dede…(sambil megang boneka)
Papa: Yang ini beneran adek..
Chelsea: ni ‘ga benelan (sambil mencet dede boneka)
Boneka: ‘Papa….Mama’

Papa: Nah Lo !?!?

simawarkuning: direkam di handicam terus undang semua orang-orang dan puter filemnya. hopefully questions will stop.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: