cross culture shock

6 02 2009

Pernah merasa out-of-place karena anda mengenakan celana pendek dan tank top saat berjalan-jalan ke pusat perbenlanjaan? Pernah dilirik aneh saat anda berbicara dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya dengan keluarga atau teman-teman anda? Pernah dimarahi orang karena anda dengan setianya mematuhi setiap aturan lalu lintas – mengurangi kecepatan saat lampu sudah menyala kuning, memberi jalan kepada orang lain di persimpangan, atau mencoba mengantri dengan sopan saat jalanan macet? Pernah diberi pandangan aneh karena anda duduk dengan mengangkat kedua kaki di sebuah ruang tunggu? Pernah dicap sok alim atau norak hanya karena anda memilih untuk berjalan an extra distance hanya untuk mencari tempat sampah untuk membuang puntung rokok anda? Jangan takut. Anda tidak perlu merasa aneh. Anda tidak perlu merasa minder. Bila saat ini anda sedang mengalami itu semua, tidak perlu kawatir. Jangan takut, badai pasti berlalu. It happened to me at one point in my life. And I went through it and did everything that felt right to me. Dan saya berhasil melalui itu semua.

Itulah yang disebut sebagai cross-culture shock. Biasanya terjadi kepada orang-orang yang baru kembali ke negara asalnya setelah menghabiskan waktu beberapa lama atau tinggal di negara lain. Wajarlah kalau selama kita berada atau tinggal di suatu negara lain, pasti kita akan meng-adopt kebiasaan-kebiasaan, adat-adat dan cara-cara hidup masyarakat di negara tersebut. Hal-hal yang pada awalnya terasa asing buat kita, seiring dengan jalannya waktu akan menjadi hal yang biasa karena kita (harus) melakukannya sehari-hari.

Saya sempat bersekolah di Inggris selama 2 tahun dan di Amerika selama sekitar 5 tahun. Waktu yang cukup lama menurut saya untuk bisa mengubah kebiasaan-kebiasaan sehari-hari saya. Tujuh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membentuk suatu tata cara hidup dan membuatnya melekat pada diri kita dan menjadikannya sesuatu yang biasa untuk kita lakukan. Begitupun dengan saya. Bayangkan, selama saya sekolah itu, saya hampir tidak pernah berinteraksi dengan orang Indonesia. Jangankan berbicara atau ngobrol, bertemu orang Indonesia pun bisa dihitung dengan jari di satu tangan. Saya benar-benar berinteraksi dengan orang Indonesia cuma pada saat saya pulang setiap summer holiday. Bisa dibayangkan jadinya betapa saya ‘lupa’ cara-cara hidup orang Indonesia. Dan memang secara tidak sadar the American culture itu mulai melekat dalam diri saya.

Tibalah saatnya saya kembali ke tanah air setelah berhasil menggondol gelar Sarjana di negeri paman Sam itu. Dan ternyata bukan hanya gelar tersebut yang berhasil saya gondol pulang tetapi budaya dan kebiasaan-kebiasaan disana. Tanpa saya sadari saya pun mengalami apa yang dinamakan cross-culture shock. Saya yang sudah terbiasa bicara dalam bahasa Inggris setiap hari, setiap menit, setiap detik (bahkan mimpi saya pun berbahasa Inggris), jadi merasa ‘kagok’ harus bicara dengan semua orang dalam bahasa Indonesia. Terserah anda mau bilang saya sok kebarat-baratan atau apa. Some people mungkin saja berpikir bahwa saya ini bak kacang lupa sama kulitnya. Sok mau jadi superior, sok keren, sok tau, dan masih banyak ‘sok-sok’ lainnya. Tapi bagaimana, saya seperti merasa tidak paham menggunakan bahasa Indonesia seperti kebanyakan orang. Terasa dan terdengar kaku.

Saya pernah juga dimarahi oleh Ibu karena dianggap memakai kostum tidak senonoh waktu pergi ke sebuah mal. Waktu itu saya menggunakan celana pendek dan blus kaos yang agak pendek (pada waktu itu belum biasa orang mengenakan pakaian seperti itu). Menurut saya sih masih wajar saja considering bahwa biasanya kalau kuliah saya juga memakai kostum yang sama… suatu kali tanpa alas kaki malah.

Di kali lain, saya mendapati orang-orang memandang saya dengan pandangan aneh seakan saya ini adalah pendatang dari planet lain. Hanya karena saya mengantri untuk membayar di sebuah toko obat!! Lupa saya bahwa budaya mengantri belum begitu beken di negeri ini.

Yang paling saya ingat adalah saat saya mau interview untuk suatu pekerjaan. Untuk interaksi sehari-hari dengan orang Indonesia saja saya masih kewalahan, alias kagok, apalagi ini untuk sesuatu yang supposedly begitu formal. Oh, my God. Apa yang harus saya lakukan? Bagaimana cara berbicara yang seharusnya dalam sebuah interview? Apakah saya harus bersikap santai dan apa adanya? Apakah saya harus bersikap serius dan dewasa? Apakah saya harus taking it easy atau benar-benar berpikir keras untuk mendapatkan setiap jawaban yang diinginkan? Saya bahkan tidak tahu bagaimana sikap duduk yang disebut sopan pada sebuah interview. Apakah saya harus menyilangkan kaki yang satu diatas yang lainnya? Apakah saya harus menyenderkan badan? Apakah saya harus duduk tegak dan condong ke depan? Apakah saya harus melihat mata sang interviewer? Apakah saya harus tersenyum atau bersikap menjaga jarak? Hal-hal kecil ini semua membuat saya binging dan terus terang pada waktu interview itu saya gugup minta ampun. Bukan karena takut saya tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan, tetapi lebih karena saya tidak tahu bagaimana harus bersikap formal. Menggelikan memang.

Jadi, saya cuma mau bilang, cross-culture shock itu adalah hal yang umum dan banyak terjadi. Dan bila itu terjadi pada anda, hadapi saja dengan santai. Do what your heart says right to do. Tapi juga asah tingkat kepekaan anda supaya akhirnya andapun tahu apa yang benar dan apa yang salah. Ingat, lama kelamaan nanti juga anda akan terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan dan budaya yang baru ini. Yang tidak boleh dilakukan adalah bersikap minder dan terkesan dibuat-buat. Be who you are and face the world. Cross-culture shock? Kecil. Hal yang biasa.

smk200907

Actions

Information

4 responses

9 02 2009
Don Corleone

Biasalah san di Indonesia…bukannya ‘kalo memang mudah kenapa dipersulit?’ tapi ‘kalo bisa dipersulit ngapain bikin mudah?’ sampai2 bisa tuh mucul yg namanya UU anti-pornografi. kapan yah ada UU anti-korupsi?

simawarkuning: jangan… entar urusan tilang-menilang jadi panjang. sekarang kan enak, tinggal nego harga hehehe…🙂

10 02 2009
doncorleone

itu tuh katanya kalo ketilang minta karcis biru jadi langsung bayar di tempat. tapi kalo bisa nego yah..minimal makan siang…lebih bagus lagi haha

simawarkuning: harus transfer lewat atm kaleee… ribet. mending nego cash.🙂

9 03 2009
sibawel

Hi San, aku lagi coba lihat2 blog mu, kata si tuti fruti bagus… oke banget tulisanmu disini. gak nyangka ya ma jeng yang repot ini sempet bikin blog.

Komen dikit, secara aku bawa motor, jadi kalo pas lampu merah trus didepan macet, ada aja boil dan motor yang klakson supaya aku jalan, tapi maaf, mereka gak akan lihat aku melaju ngebut dengan motor, malah buka helm dan “nyemprot” karena mereka gak sabaran… !!

Oke deh itu aja, so I am not alone lah

simawarkuning: makasih udah dibilang bagus… tentang kebiasaan2 yang nggak merakyat… ya gitu deh. emang suka nyebelin. gimana mau maju coba rakyat indonesia? taela….🙂

16 06 2009
Javanis

He he he.
Menjadi Wanita tidaklah sulit dan km bisa, yang sulit itu jd perempuan.
Perempuan Indonesia apalagi perempuan Jawa, defaultnya memang
wanita yang santun, manut dan nrimo, tp juga dituntut untuk tegar dan biasanya di didik untuk bisa hidup mandiri sejak awal.
Apa yg km rasakan itu karena mungkin kamu dilahirkan dan hidup dilingkungan
Keluarga Jawa, sehingga kata hatimu berkata lain dan km bersusah payah
melawan kata hatimu sendiri.
So be yourself..pndapat org lain prlu dihargai tp bukan berarti harus diikuti.
And to me you are still Indonesian,and mengutip Stink “You’re not allien and You’re not english-woman in Newyork”

simawarkuning: terima kasih. i take that as a compliment🙂 tumben nih dapet wejangan serius…. hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: