Mama, the Story Teller – Petualangan Bumi

1 10 2011

Sometime last week, my baby asked me to tell him a bedtime story. As I wasn’t prepared, I started connecting what little words I have on my mind. And this is how my story goes.

Pada suatu hari (this ‘Once upon a time’ starting phrase seems to always be a good start…) Bumi merasa bosan karena dia tidak pernah bisa berjalan-jalan kemana dia mau. Bumi merasa lelah karena harus tinggal diam dan menonton orang-orang yang lalu lalang dan mobil-mobil yang lewat di atasnya. Bumi pun berkata, “Tuhan, aku bosan. Aku mau berkeliling angkasa dan melihat ada apa yang terjadi di sana.” Tuhan mendengar doa Bumi, dan mengabulkannya.

Bumi pun mulai berjalan. Setelah jauh berjalan, Bumi pun bertemu dengan Bintang.

“Hai Bintang, sedang apa kamu?” sapa Bumi.

“Aku menemani malam. Tanpa aku, malam akan terlalu gelap,” jawab Bintang.

“Kasihan, jadi kamu tidak pernah melihat terang seumur hidupmu?” tanya Bumi.

“Tidak, aku harus selalu disini menemani malam. Ini tugasku bersama Bulan,” lanjut Bintang.

Bumi hanya mengangguk-angguk dan merenung. Tak lama Bumi pun mengucapkan salam perpisahan pada Bintang dan melanjutkan perjalanannya. Hampir lelah Bumi berjalan, sampai dia pun bertemu Matahari.

“Hai Matahari, kamu terang sekali,” sapa Bumi.

“Iya, hanya ini yang aku tahu. Aku hanya bisa berteman dengan terang. Karena aku adalah terang,” jawab Matahari.

“Maksudmu, kamu tidak pernah melihat malam? Tidak pernah melihat Bulan dan Bintang?” tanya Bumi.

“Tentu saja tidak. Aku bahkan tidak pernah merasakan gelap malam,” kata Matahari lagi.

Bumi semakin merenung mendengarkan cerita Matahari. Akhirnya Bumi pun menyadari bahwa sesungguhnya dia lebih beruntung daripada Matahari, Bulan dan Bintang. Walaupun Bumi harus bekerja keras menjadi rumah buat para manusia dan hewan-hewan, dia punya kesempatan untuk bisa merasakan siang dan malam bergantian. Bumi punya kesempatan untuk bertemu dengan Bintang dan Bulan di malam gelap dan juga Matahari di siang yang panas.

“Ah, betapa beruntungnya aku memiliki jauh lebih banyak hal-hal indah dalam hidupku,” kata Bumi dalam hati.

Sejak saat itu Bumi tidak pernah mengeluh lagi.

The end. Not too bad a story, huh?


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: